Kamis, 20 September 2012

ASKEP MENINGITIS PADA ANAK


MAKALAH

KEPERAWATAN ANAK

MENINGITIS



 












Disusun Oleh



TESALONIKA MARENTEK




KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO
JURUSAN KEPERAWATAN
2012





  KATA PENGANTAR



            Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa Karena atas berkat, hikmat, dan tuntunan-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah tentang Meningitis.
            Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah untuk memenuhi tugas yang diberikan kepada penulis.
            Penulisan makalah ini berisi tentang” Meningitis”.
            Dalam pembuatan makalah ini, penulis banyak menerima bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu penulis menyampaikan banyak terima kasih.
            Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan – kekurangan, ini tidak terlepas dari kemampuan penulis yang masih terbatas. Menyadari akan hal itu, maka penulis mengharapkan bantuan baik berupa kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.


                                                                                                Manado,    Maret  2012

                                               
                                                                                                                  Penulis
                                                                                      


                                    i
                     DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar ………………………………………………………………......               i
Daftar Isi …………………………………………………………………..........                 ii
BAB I                         PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang Masalah ………………………………..                 1
B.                 Tujuan Penulisan  ………………………………………                  1
C.                 Manfaat Penulisan ..........................................................                  1
D.                Metode Penulisan ...........................................................                  1
BAB II            TINJAUAN TEORITIS
A.    Pengertian ............................................................................                    2
B.     Etiologi ................................................................................                    2
C.     Jenis – jenis meningitis .......................................................                      2
D.    Epidemilogi .........................................................................                     4
E.     Manifestasi Klinis ...............................................................                     4
F.      Patofisiologi ........................................................................                     5
G.    Komplikasi .........................................................................                      5
H.    Penatalaksanaan Medis ......................................................                      5
I.       Prognosis ............................................................................                      6
J.       Pencegahan .........................................................................                     6
BAB III          ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MENINGITIS
I.         Pengkajian ...........................................................................                  7         
II.      Diagnosa Keperawatan ......................................................                  9         
III.   Implementasi .......................................................................                   10
IV.   Evaluasi ...............................................................................                   10
BAB IV          PENUTUP
·      Kesimpulan
·      Saran
Daftar Pustaka

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Meningitis adalah suatu infeksi/peradangan dari meninges,lapisan yang tipis/encer yang
mengepung otak dan jaringan saraf dalam tulang punggung, disebabkan oleh bakteri, virus,
riketsia, atau protozoa, yang dapat terjadi secara akut dan kronis.
Meningitis adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus meningitis
berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus tersebut dapat berpindah
melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang menghirup udara tersebut.

A.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari asuhan keperawatan ini :
1.      Memberikan informasi kepada pembaca tentang Meningitis.
2.      Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Meningitis.
3.      Untuk memenuhi tugas yang diberikan kepada penulis.
B.   Manfaat Penulisan
            Memberikan informasi kepada kita tentang terjadinya Meningitis.  .
C.   Metode Penulisan

a.       Buku - buku
b.      Diskusi
c.       Internet










1
BAB II
TINJAUAN TEORITIS


1.        Pengertian
Meningitis merupakan inflamasi pada selaput otak yang mengenai lapisan piamater dan ruang subarachnoid maupun arachnoid, dan termasuk cairan serebrospinal (CCS) (Hickey, 1997).   
Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meningen, yaitu membran atau selaput yang melapisi otak dan medulla spinalis, dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk kedalam darah dan berpindah  kedalam cairan otak (Black & Hawk, 2005)
Meningitis adalah suatu peradangan pada selaput yang membungkus otak  (meningens). 

2.        Etiologi
·      Infeksi sekunder dari bakteri : sinusitis, OMA/OMK, Pneumonia,  Endokarditis,
                                                 Osteomylitis 
·   Organisme bakteri                 : Neisseria, haemophilus influensa, streptococcus
                                                    pneumonia 
·   Virus                                      : Aseptic meningitis 
·    Trauma                                  : Fraktur pada tulang tengkorak, luka pada kepala. Lumbal
                                                      Fungsi, Prosedur shunting ventrikuler.

3.        Jenis – Jenis Meningitis
Jenis meningitis ada 3 yaitu :
·    Meningitis bakterial 
Meningitis bakterial  merupakan karakteristik inflamasi pada seluruh meningen, dimana organisme masuk kedalam ruang arahnoid dan subarahnoid.   
Meningitis bakterial merupakan kondisi emergensi neurologi dengan angka kematian sekitar 25 % (Ignatavicius & Wrokman, 2006).
Meningitis bacterial adalah suatu peradangan pada selaput otak, ditandai dengan peningkatan jumlah sel polimorfonuklear dalam cairan serebrospinal dan terbukti adanya bakteri penyebab infeksi dalam cairan serebrospinal. (Arif Mansjoer.Kapita Selekta.2000:437).
2
Meningitis purulenta adalah radang selaput otak yang menimbulkan eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman non spesifik dan nonvirus. (Ngastiyah: 2005)
Meningitis bakterial jika cepat dideteksi dan mendapatkan penanganan yang tepat akan mendapatkan hasil yang baik.  Meningitis bakterial sering disebut juga sebagai meningitis purulen atau meningitis septik.
Bakteri yang dapat mengakibatkan serangan meningitis adalah; Streptococcus pneuemonia (pneumococcus), Neisseria meningitides, Haemophilus influenza, (meningococcus),  Staphylococcus aureus dan Mycobakterium tuberculosis.(Ginsberg, 2008).
Streptococcus pneumoniae (pneumococcus), bakteri ini penyebab tersering meningit akut, dan paling umum menyebabkan meningitis pada bayi ataupun anak-anak.  Neisseria meningitides (meningococcus) bakteri ini merupakan penyebab kedua terbanyak setelah Streptococcus pneumoniae, Meningitis terjadi akibat adanya infeksi pada saluran nafas bagian atas yang kemudian bakterinya masuk kedalam peredaran darah. Haemophilus influenza, Haemophilus influenzae type b (Hib) adalah jenis bakteri yang juga dapat menyebabkan meningitis. Jenis bakteri ini sebagai penyebab terjadinya infeksi pernafasan bagian atas, telinga bagian dalam dan sinusitis. Pemberian vaksin (Hib vaksin) telah membuktikan terjadinya angka penurunan pada kasus meningitis yang disebabkan bakteri jenis ini.Staphylococcus aureus, Mycobakterium tuberculosis jenis hominis.

·       Meningitis virus 
                        Meningitis virus biasanya disebut meningitis aseptik. Sering terjadi akibat lanjutan dari bermacam-macam penyakit akibat virus, meliputi; measles, mumps, herpes simplek, dan herpes zoster. (Wilkinson, 1999).   
Meningitis virus adalah suatu sindrom infeksi virus susunan saraf pusat yang akut dengan gejalah rangsang meningeal,pleiositosis  dalam likuor serebrospinalis dengan  deferensiasi terutama limfosit,perjalanan penyakit tidak lama dan selflimited tanpa komplikasi.(Ngastiyah:2005)
Virus penyebab meningitis dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu virus RNA (ribonuclear acid) dan virus DNA (deoxyribo nucleid acid).  Contoh  virus RNA adalah enterovirus (polio), arbovirus (rubella), flavivirus (dengue), mixovirus (influenza, parotitis, morbili).  Sedangkan contoh virus DNA antaa lain virus herpes, dan retrovirus (AIDS) (PERDOSSI, 2005)
Meningitis virus biasanya dapat sembuh sendiri dan kembali seperti semula (penyembuhan secara komplit) (Ignatavicius & Wrokman,2006).  
Pada kasus infeksi virus akut, gambaran klinik seperti meningitis akut, meningo-ensepalitis akut atau ensepalitis akut.

3
·       Meningitis Jamur 

Infeksi jamur dan parasit pada susunan saraf pusat merupakan penyakit oportunistik yang pada beberapa keadaan tidak terdiagnosa sehingga penanganannya juga sulit.  
Manifestasi infeksi jamur dan parasit pada susunan saraf pusat dapat berupa meningitis (paling sering) dan proses desak ruang (abses atau kista).   
Angka kematian akibat penyakit ini cukup tinggi yaitu 30% -40% dan insidensinya meningkat seiring dengan pemakaian obat imunosupresif dan penurunan daya tahan tubuh (Martz, 1990 dalam Depkes RI, 1998).   
Meningitis kriptokokus neoformans biasa disebut meningitis jamur, disebabkan oleh infeksi jamur pada sistem saraf pusat yang sering terjadi pada pasien acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). (Ignatavicius & Wrokman, 2006; Wilkinson, 1999).  

4.        Epidemilogi
Meningitis virus lebih sering dijumpai pada orang dewasa.Di negeri tropis dan subtropics tingginya frekuensi meningitis  virus tidak bergantung pada musim seperti di negeri beriklim dingin yang angka kejadian tertingginya dijumpai pada musim panas dan musim dingin.

5.        Manifestasi Klinis
Gejala Meningitis :
·      Bayi : Demam, Kejang pada tengkuk, Rewel/gelisah, Susah makan, Menangis terus
          menerus, Lemah, Intensitas interaksi berkurang, Ubun-ubun membenjol
·      Anak : Demam, Kejang pada tengkuk, Sakit kepala, Mual, Bingung/disorientasi,
            Serangan mendadak, Tidak suka cahaya terang (fotofobia), Ruam di sekujur tubuh
·      Dewasa : Sakit kepala,demam, mual, muntah, photopobia, adanya tanda rangsang
                meningeal/iritasi meningen seperti; kaku kuduk positif, tanda Kernig positif,
                dan tanda Brudzinski positif, perubahan tingkat kesadaraan, kejang,                  
                peningkatan tekanan intrakranial, disfungsi saraf kranial, dan penurunan status
                mental (Ignatavicius & Wrokman, 2006; Hickey, 1997).

Tanda dan gejala lain yang tidak khas pada pasien meningitis adalah; terjadi hipersensitivitas kulit, hiperanalgesia, dan hipotonus otot, walaupun fungsi motorik masih dapat dipertahankan. Efek toksin pada otak atau thrombus pada suplai vaskular ke area serebral menyebabkan ketidakmampuan permanen fungsi serebral, jika terjadi perubahan patologi, maka dapat terjadi hemiparesis, demensia, dan paralisis (Hickey,1997).



4
6.        Patofisiologi
Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari orofaring dan diikuti dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas.
Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen; semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.
Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral.
Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK.
Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.

7.        Komplikasi
·      Komplikasi mayor meningitis bakteri
1. Cerebral - Edema otak dengan resiko herniasi
2. Komplikasi pemb darah arteri: arteritis vasopasme, fokal kortikal, hiperperfusi,
    gangguan serebrovaskular autoregulasi
3. Septik sinus/ trombosis venous terutama sinus sagitalis superior, tromboflebitis
     kortikal
4. Hidrosefalus
5. Serebritis
6. Subdural efusi (pada bayi dan anak)
7. Abses otak, subdural empiemi
·      Komplikasi ekstrakranial
1. Septik shock
2. DIC
3. Respiratory distress sindrom
4. Arteritis (septik atau reaktif)
5. Ggn elektrolit: hiponatremi, SIADH,central diabetes insipidus (jarang)
6. Komplikasi spinal :mielitis, infark
8.        Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan secara medis pada meningitis dapat dilakukan dengan cara diberikan
a)      Koreksi gangguan asam basa elektrolit, apabilla terdapat ketidak seimbangan asm basa
dan elektrolit dapt diberikan Cairan intravena MARTOS-10  Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam  Mengandung 400 kcal/L
5
b)      Atasi kejang dapat diatasi dengan, Kortikosteroid.golongan deksametason 0,6
mg/kgBB/hari selama 4 hari, 15-20 menit sebelum pemberian antibiotic
c)      Antibiotik. Terdiri 2 fase yaitu empiric dan setelah hasil biakan dan uji resistensi.
Pengobatan empiric pada neonates adalah kombinasi ampisilin dan aminoglikosida atau ampisilin dan sefotaksin. Pada umur 3 bulan – 10 tahun kombinsasi ampisilin dan kloramfenikol atau sefuroksim/sefotaksim/sefriakson. Pada usia lebih dari 10 tahun digunakan penislin. Pada neonatus pengobatan selama 21 hari, pada bayi dan anak 10 – 14 hari. 
d)   Streptomisin, PAS dan INH. Dapat diberikan diberikan dengan dosis 30-50 mg/kg BB/ hari selama 3 bulan atau jika perlu diteruskan 2 kali seminggu selama 2-3 bulan lagi, sampai likuor serebrospinalis menjadi normal. PAS dan INH diteruskan paling sedikit samapi 2 tahun. Umtuk mengatasi dehidrasi akibat masukan makanan yang kurang atau muntah.  
9.        Prognosis
Prognosis pada meningitis bakteri : Prognosis buruk pada usia yang lebih muda, infeksi berat yang disertai DIC. Mortalitas bergantung pada virulensi kuman penyebab, daya ytahan tubuh pasien, terlambat atau cepatnya.mendapat pengobatan yang tepat  dan pada cara pengobatan dan perawatan yang diberikan. Perawatan, akan dibicarakan bersama – sama dengan meningitis tuberkolosa.
Prognosis pada meningitis tuberkulosa : Pasien yang tidak diobati biasanya meninggal dunia. Yang berumur lebih muda dari 3 tahun mempunyai prognosis lebih buruk daripada yang tua. Hanya 18% dari yang hidup mempunyai fungsi neurologis dan intelektual normal. 
Prognosis pada meningitis virus : Penyakit ini self limited dan penyembuhan sempurna dijumpai setelah 3-4 hari pada kasus ringan dan setelah 7-14 hari pada keadaan yang berat.

10.    Pencegahan
Vaksin konjugat pneumokokus. Vaksin tersebut dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak yang berusia 2 bulan hingga 9 tahun. Pemberian vaksin paling baik dilakukan pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 12 bulan dan 15 bulan. Vaksin konjugat pneumokokus juga hanya menimbulkan efek samping yang ringan seperti kulit kemerahan, sedikit bengkak dan nyeri pada daerah sekitar suntikan. Gejala umum setelah pemberian vaksin seperti demam, mengantuk, rewel, nafsu makan berkurang, jarang ditemukan pada bayi.













6
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN  MENINGITIS

I.         Pengkajian
·         Identitas klien
Nama                                            :          
Umur                                            :          
Jenis kelamin                                :          
Alamat                                         :          
Agama                                          :          
Pendidikan                                   :          
Pekerjaan                                      :          
Suku/bangsa                                 :          
Tanggal MRS/jam                        :          
Tanggal pengkajian/jam               :          
No. Med. Reg.                             :          
Diagnosa medis                            :          

·         Riwayat Kesehatan
·  Keluhan Utama                         :
Sesak napas
·  Riwayat Keluhan Utama           :
     Pada umumnya pasien mengalami penyakit pernafasan seperti sesak nafas.
·  Riwayat Kesehatan Sekarang    :
   Gambaran gejala yang dialami saat ini, kapan mulai, gejala menurun/meningkat,
bagaimana mengatasinya.         
·  Riwayat Kesehatan dahulu :
 Pasien pernah mengalami Penyakit pernafasan, trauma kepala/fraktur, infeksi sinus, hidung,telinga, penyakit jantung, DM,Ca, pembedahan, bedah syaraf/telingga.
·         Pemeriksaan Fisik                         :
- Manifestasi klinis
- Tingkat kesadaran, Orientasi
- Reaksi pupil dan pergerakan mata
- Respon motorik
- Tanda awal : Lethargi, perubahan memori, gangguan perhatian, perubahan tingkah
                        laku (kepribadian)
- Tanda penyakit lanjut: Stupor, nyeri kepala berat, nyeri otot, pupil reaktif terhadap
                                       cahaya (photo phobia), Nistagmus, Disfungsi syaraf
7
                                       III,IV,VI,VII,VIII.
- Hemiparesis, hemaplegia, tonus otot menurun
- Kaku kuduk, kernig’s, Bruzinski, nyeri kepala
- Nausea, muntah, panas, Tachicardia

(1)   Aktivitas
Gejala : Perasaan tidak enak (malaise).
Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.
(2).Sirkulasi
 Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK.
 Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, takikardi,
              disritmia.
(3).Eliminasi
Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.
(4).Makanan/cairan
 Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan.
 Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.
(5). Higiene
  Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.
(6). Neurosensori
  Gejala : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena,
                kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan
                halusinasi penciuman.
  Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan halusinasi,
               kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal,
               hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif, rigiditas nukal,
               babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang
               pada laki-laki.
(7). Nyeri/keamanan
Gejala : sakit kepala(berdenyut hebat, frontal). Tanda : gelisah,  menangis.
(8). Pernafasan
Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru. Tanda : peningkatan kerja pernafasan.
·         Pemeriksaan Penunjang                :
·        Pemeriksaan Lab darah lengkap: HB,HT,LED,Erytrosit,Lekosit
Laju endap darah meninggi, Jumlah sel berkisar antara 200-500/mm3, mula-mula sel PMN dan limfosit dalam proporsi sama atau kadang-kadang sel PMN lebih banyak, selanjutnya limfosit yang lebih banyak. Kadang-kadang jumlah sel pada fase akut dapat mencapai kurang lebih 1000/mm3. Kadar protein meninggi dan glukosa menurun. 
·      Kultur darah
CT-Scan, X-Ray
Cairan serebrospinal berwarna jernih atau xantokrom, bila dibiarkan mengendap akan membentuk batang-batang, kadang-kadang dapat ditemukan mikroorganisme didalamnya. Foto dada biasanya normal, bisa terdapat gambaran milier dan kalsifikasi.

8
·      Lumbal fungsi 
Fungsi lumbal penting sekali untuk pemeriksaan bakteriologik dan laboratorium lainnya. Likuor serebrospinalis berwarna jernih, opelesen atau kekuning-kuningan (xantokrom). Tekanan dan jumlah sel meninggi namun umumnya jarang melebihi 1500/3mm dan terdiri dari limfosit terutama. Kadar protein meninggi sedangkan kadar glukosa dan klorida total menurun. Bila cairan otak didiamkan akan timbul fibrinous web (pelikel), tempat yang sering ditemukannya basil tuberkulosis. Dugaan bahwa seorang pasien menderita meningitis tuberkulosa dengan melihat hasil pungsi lumbal berupa cairan serebrospinalis yang jernih. Juga adanya kelainan radiologis serta adanya sumber di dalam keluarga. 
·      Uji tuberkulin 
Uji tuberkulin pada meningitis bakteri dianggap kurang bermakna karena sering negatif disebabkan adanya anergi 36%. Untuk memberikan pengobatan yang tepat diperlukan menemukan kuman tuberkulosis yang dapat ditemukan dengan melakukan biakan dari cairan serebrospinalis.

II. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan b.d peningkatan ICP/edema otak
Tujuan            : meningkatkan perfusi jaringan ke otak 
Kriteria hasil  :- kesadaran pasien penuh 
                        - TTV normal : TD 110/70 mmHg, Rr, N,
- Pasien tidak kejang dan bisa orientasi   
Intervensi        :
1. Kaji tingkat kesadaran, dan TTV.
2. Ciptakan lingkungan tenang (cegah agitasi-peningkatan TIK).
3. Pertahankan tirah baring dengan posisi datar.
4. Pantau sesuai indikasi setelah dilakukan punksi lumbal.
5. Kaji adanya rigiditas nuksi, gemetar, kegelisahan yang meningkat, peka rangsangan ,
    dan adanya serangan kejang.
6. Catat kejadian berhubngan status neurologis: Kejang, disorientasi.
2. Gangguan rasa nyaman: Nyeri b.d iritasi meningeal
Tujuan             : menurunkan rasa nyeri 
Kriteia hasil     : - skala nyeri pasien menurun 
                                - Pasien merasa nyaman 
                         - Pasien bisa istirahat dengan cukup
Intervensi        :
1. Kaji tingkat nyeri
    Rasional       : Untuk mengetahui seberapa berat tinggkat nyeri yang dirasakan klien. 
2. Berikan posisi nyaman dan aman (pasang sidedriil)
Rasional      : Untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan klien.
3. Berikan analgesik sesuai program (monitor reaksi dan respon pasien)
Rasional      : Untuk mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri.
9
3. Hiperthermia b.d proses infeksi dan edema cerebral
Tujuan           : menurunkan panas
Kriteria hasil :- TTV normal 
Intervensi      :
1. Kaji TTV 
    Rasional       :  Efektif membantu pemantauan suhu,TD,respirasi,nadi.
2. Berikan Kompres hangat.
    Rasional       : Untuk membantu penurunan suhu tubuh.
3. Monitor temperatur secara kontinue
    Rasional       : untuk memantau apakah ada kenaikan atau penurunan suhu tubuh klien.
4. Ganti baju kain bila basah
    Rasional       : untuk mengurangi resiko adanya iritasi pada kulit.
5. Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai program
    Rasional       : untuk terapi pengobatan penurunan suhu tubuh.

4. Resti defisit volume cairan b.d meningkatnya temperatur, menurunnya intake cairan
Tujuan          : kebutuhan cairan dan elektrolit pasien terpenuhi 
Intervensi     :
1. Monitor intake-output, monitor CVP bila ada
    Rasional       : Untuk mengkaji seberapa intake dan output klien, dan memonitor devisit
  cairan. 
2. Beri cairan IV sesuai program, cegah over-load cairan 
    Rasional      : Untuk ketepatan cairan intravena yang diberikan dan mengurangi resiko
                          devisit volume cairan yang berlebihan.
3.  Menurunkan edema
     Rasional      : mengurangi pembengkakan pada selebri.
5. Resti defisit nutrisi b.d peningkatan metabolisme,intake nutrisi tidak adekuat
Tujuan          : mencegah adanya deficit nutrisi.
Intervensi     :
1. Pantau adanya mual muntah dan anoreksia.
    Rasional       : Mengurangi rasa mual dan muntah  
2. Berikan asupan nutrisi sedikit – sedikit tapi sering.
    Rasional       : Membantu asupan makanan agar terpenuhi
III.   Implementasi
1.      Mengkaji tingkat kesadaran, TTV
2.      Memberikan posisi aman dan nyaman
3.      Memberikan kompres hangat untuk membantu penurunan suhu badan
4.      Menurunkan edema
5.      Memantau adanya mual/muntah dan anoreksia
IV.   Evaluasi
1.      Meningkatnya perfusi jaringan ke otak 
2.      Rasa nyeri berkurang
3.      Suhu badan kembali normal
4.      Kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi
10
BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN
Meningitis adalah suatu infeksi/peradangan dari meninges,lapisan yang tipis/encer yang mengepung otak dan jaringan saraf dalam tulang punggung, disebabkan oleh bakteri, virus, riketsia, atau protozoa, yang dapat terjadi secara akut dan kronis.
Meningitis adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus meningitis berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus tersebut dapat berpindah melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang menghirup udara tersebut.

B.     SARAN
Untuk memudahkan pemberian tindakan keperawatan dalam keadaan darurat secara cepat dan tepat, mungkin perlu dilakukan prosedur tetap/protokol yang dapat digunakan setiap hari. Bila memungkinkan , sangat tepat apabila pada setiap unit keperawatan di lengkapi dengan buku-buku yang di perlukan baik untuk perawat maupun untuk klien.










DAFTAR PUSTAKA



Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Edisi 3 Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius. 437-439
Doenges, Marilyn E, dkk.(1999).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa, I Made Kariasa, N Made Sumarwati. Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester, Yasmin asih. Ed.3. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar